my inspiration

Loading...

24 Mei 2010

feminisme Indonesia (Dr. Gadis Arivia)

Filsuf dan Aktivis Gerakan Feminisme

Dosen studi feminisme dan filsafat kontemporer di Universitas Indonesia ini seorang aktivis perempuan. Ibu berparas cantik ini mendirikan Yayasan Jurnal Perempuan, bersama rakan-rekannya pada tahun 1996. Namanya, Gadis Arivia, menjadi akrab di telinga, mata dan hati publik setelah ditangkap polisi ketika berdemonstrasi mengusung isu kelangkaan susu bayi di bundaran Hotel Indonesia Jakarta, Februari 1998.
Ketika itu, krisis ekonomi melanda negeri. Nilai tukar rupiah terhadap dolar melorot terus. Susu bayi jadi barang langka. Doktor filsafat dari Universitas Indonesia dengan disertasi Dekonstruksi Filsafat Barat, Menuju Filsafat Berperspektif Feminis, ini bersama puluhan ibu lainnya turun ke jalan, menggugah kesadaran.

Mereka dengan dandanan rapi dan berkacamata hitam berdemonstrasi, bernyanyi dan membagikan bunga mawar di bundaran Hotel Indonesia Jakarta. Akibatnya, Gadis bersama dua ibu lainnya Wilasih Noviana dan Karlina Leksono sebagai pimpinan rombongan, ditangkap polisi. Sejak itu, nama Gadis Arivia menjadi populer. Maklum, dia demonstran yang cerdas, cantik dan menawan.

Sebelumnya, tak banyak yang tahu bahwa lulusan Ecole Haute Etudes Scientifique Sociale itu, bersama rekan-rekannya, telah mendirikan Yayasan Jurnal Perempuan (YJP) tahun 1996. Mereka mendirikan yayasan itu, karena melihat demokrasi bagi kaum perempuan di Indonesia masih sangat perlu diperjuangkan. Betapa kaum perempuan yang tinggal di pelosok wilayah Indonesia, sangat membutuhkan batuan, baik itu masalah pendidikan ataupun masalah lain yang belum tersentuh oleh pemerintah.

Ibu dari dua orang anak, Anissa Joice dan Benyamin Arif, buah pernikahannya dengan Rick Polard, laki-laki berkebangsaan Amerika, ini tinggal di rumahnya yang asri di kawasan Patra Kuningan, Jakarta Selatan. Mereka menikah di Bogor 9 Januari 1994.

Rick Polard dikenal sebelum dia kuliah ke Prancis. Polard bekerja di Bank Dunia kantor Indonesia. Kala itu, setiap weekend, Polard menjenguknya ke Prancis. Tak heran bila Gadis sangat mengagumi Polard yang disebut berdedikasi dan memulai karier jadi guru di Nepal, Pakistan dan Afrika.

Selalu berpenampilan menarik dan anggun, ruangan kerjanya pun sangat sejuk dan tertata apik. Tercermin pula dia seorang ilmuwan. Di ruang kerjanya itu, tersusun rapi buku-buku yang kebanyakan tentang filsafat dan feminisme. Di depan ruang kerjanya ada kolam renang yang airnya bening. Di dinding belakang meja kerjanya terdapat poster besar Jacques Derrida, tokoh gerakan pascamodernisme dari Prancis, yang sangat dikaguminya.

Selain menekuni pekerjaannya sebagai seorang akademisi, Gadis mengabdikan diri sebagai Direktur Yayasan Jurnal Perempuan (YJP). Kendati dia tidak pernah menerima gaji dari kegiatannya di YJP itu. Prinsip bekerja sebagai pimpinan dalam LSM, menurutnya, adalah harus siap untuk tidak di bayar.

Dia sangat berbahagia karena memiliki kesiapan mental dan dukungan dari suami dan anak-anaknya. "Tanpa dukungan mereka saya tidak bisa bekerja dengan maksimal,"katanya. Namun, sesibuk apa pun dia, baik sebagai dosen dan aktivis perempuan, dia tetap memprioritaskan keluarga. Tak jarang dia mengajak anaknya ikut keluar kota sekaligus menyelesaikan pekerjaanya.

Pada masa kecil sampai beranjak dewasa, Gadis telah melanglang buana dari satu negara ke negara lain, mengikuti ayahnya Arif Effendi, berdarah Melayu Deli, yang bekerja di British Council, sebuah lembaga kebudayaan kerajaan Inggris. Sementara, ‘darah aktivis’ diwarisi dasi ibunya Atikah, berdarah campuran Aceh dan Minang, kelahiran Pematang Siantar, yang semasa mudanya aktif sebagai aktivis Aisyah, organisasi perempuan Muhammadiyah.

Gadis, anak ketujuh dari sembilan bersaudara (empat perempuan dan lima laki-laki) lahir di New Delhi, India pada 4 September 1964, tempat ayahnya bertugas. Namun, ketika itu, ayahnya Arif Effendi sedang bertugas ke Etiopia. Sesaat dia lahir seorang kerabat mengusulkan nama Gadis. Sang Ibu mengamini. Lalu, saat Sang Ayah kembali dari Etiopia, diberi tambahan Arivia. Sebuah nama yang berasal dari nama ayahnya Arif (Ari) dipadu nama neneknya Lathifah (Via).

Saat bayi Gadis baru berumur dua minggu, keluarga besar ini pindah ke Etiopia, mengikuti kepindahan tugas Sang Ayah. Dua tahun keluarga ini tinggal di Etiopia. Kemudian pulang ke Indonesia. Setelah tiga tahun menetap di Indonesia, keluarga ini pindah mengikuti Sang Ayah yang ditugaskan ke Budapest, Hongaria, selama empat tahun.

Di negeri ini, Gadis masuk sekolah dasar di British Embassy School Budapest. Kemudian keluarga ini mengikuti Sang Ayah kembali lagi ke Indonesia. Tinggal di daerah Tebet, Jakarta. Gadis pun masuk ke sekolah menengah pertama di Tebet, namun, hanya sampai kelas satu. Saat itu, Gadis mengalami kesulitan mengikuti mata pelajaran yang menggunakan bahasa Indonesia. Dia lebih fasih berbahasa bahasa Inggris.

Ketika itu, Sang Ayah sakit parah dan meninggal Juli 1977 dalam usia 55 tahun. Gadis dan segenap keluarga besar ini berduka. Untunglah beberapa kakaknya sudah bekerja. Gadis pun ikut kakaknya nomor dua, Arrizal Effendi, yang bertugas sebagai diplomat di Washington. Gadis remaja ini melanjutkan sekolah menengah di Mc. Lean High School Virginia Amerika.

Setelah lulus sekolah menengah di Virginia, Gadis pulang ke tanah air. Sang Ibu sangat merindukannya, ingin selalu dekat dengannya. Di Jakarta, dia melanjutkan studi di Program Diploma III Sastra Prancis Universitas Indonesia. Gadis memilih sastra Prancis dilatari kekagumannya pada Paris. Sang Ayah sering mengajak mereka sekeluarga keliling Eropa. Gadis mengagumi gaya hidup penduduk Paris dan keindahan kotanya.

Bahkan saat sekolah di Virginia, dia juga banyak membaca buku-buku para pemikir Prancis seperti Albert Camus, Simone d'Beauvoir, dan Jean Paul Sartre. Pasalnya, Gadis dan teman-temannya mendapat tugas membuat makalah tentang para sastrawan Prancis itu. Saat itu, Gadis sering merasa papernya kurang bagus dibanding temannya yang lebih menguasai bahasa Prancis.

Saat kuliah Sastra Prancis Universitas Indonesia, awal 1980-an, Gadis pun sering mengunjungi perpustakaan di Centre Culturel Francais atau Pusat Kebudayaan Prancis, Jalan Salemba Raya Jakarta. Di situ dia banyak membaca buku tokoh-tokoh filsafat Prancis. Dia pun makin tertarik pada filsafat. Maka, setelah program diploma sastra Prancis selesai, Gadis pun melanjutkan studi filsafat di Universitas Indonesia.

Pada 1990-an, Gadis merasa tertarik pada pemikiran baru tentang pascamodernisme. Ketika itu, Asikin Arif, dosen filsafat Universitas Indonesia, pulang dari Jerman membawa pemikiran pascamodernisme. Sebuah gerakan yang bermula dari kritik seni, arsitektur dan filsafat, kemudian berkembang jadi skeptisisme yang sistematis terhadap teori-teori lama tentang modernisasi dan industrialisasi. Gerakan ini, antara lain dimotori Jacques Derrida dari Prancis, yang dikenal dengan teori dekonstruksi dalam filsafat Barat.

Gadis sangat tertarik atas pemikiran itu. Dia pun ikut aktif membentuk kelompok diskusi Lingkaran Studi Filsafat. Sampai kemudian, Gadis berobsesi bertemu Jacques Derrida, sekaligus untuk melanjutkan studi filsafat di perguruan tinggi ilmu sosial, Ecole Haute Etudes Scientifique Sociale, tempat Derrida mengajar.

Obsesi itu tidak mudah dicapai. Karena, ketika itu tidak ada jatah beasiswa dari pemerintah Indonesia untuk ilmu filsafat. Tapi Gadis bergiat dengan optimis untuk mewujudkan keinginannya. Akhirnya, kegigihannya membuahkan hasil, dia mendapat beasiswa dan kerinduannya mengikuti kuliah Derrida terpenuhi.

Dia berangkat ke Prancis. Dua tahun (antara 1992 -1994), dia studi dan melahap banyak buku, berdiskusi dengan para mahasiswa dan yang paling menarik mengikuti kuliah Jacques Derrida. Masa itu dianggap sebagai suatu masa yang paling menyenangkan dalam hidupnya. Banyak kenangan indah yang diperolehnya selama mengikuti studi itu.

Di antaranya, kesannya perihal Derrida yang sangat populer saat itu walau teorinya tentang dekonstruksi telah diperkenalkannya sejak 1968. Di mata banyak mahasiswa ketika itu, Derrida itu tampan, berwibawa, pintar dan mudah diajak ngobrol oleh siapa pun taanpa mengambil jarak.

Jurnal Perempuan
Sepulang dari Prancis, Gadis mengajar studi feminisme dan filsafat kontemporer di Universitas Indonesia. Saat itu, mahasiswanya mengalami kesulitan lantaran bahan-bahan bacaan berbahasa Indonesia sulit ditemukan. Gadis pun membuat buletin. Dicetak sekitar 200 eksemplar dan langsung habis.

The Ford Foundation, sebuah embaga dana Amerika Serikat, tertarik dengan buletin berisi teori dan perkembangan feminisme itu. Lembaga itu bersedia mendanai dengan syarat harus ada legalitas secara hukum. Gadis bersama Toeti Heraty Noerhadi dan Asikin Arif mendirikan badan hukum yang dinamai Yayasan Jurnal Perempuan. Modalnya hanya empat juta yang segera pula dikembalikan setelah yayasan berdiri.

Langsung mulai bekerja diawaki tiga orang. Awalnya hanya bahan bacaan, Jurnal Perempuan. Ternyata makin berkembang hingga menjadi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang diawaki lebih 20 orang.

Sekitar 60 persen dana yang membiayai kegiatan Yayasan Jurnal Perempuan, bersumber dari lembaga dana dan perusahaan nasional dan international. Di antaranya The Ford Foundation, Canada International Development Agency, The Body Shop, Martha Tilaar, Rio Tinto dan Philip Morris.

Yayasan Jurnal Perempuan ini pun dapat bertahan menerbitkan Jurnal Perempuan (jurnal ilmiah soal feminisme) dan program radio Jurnal Perempuan (mulai tahun 1999). Jurnal Perempuan yang formatnya seperti majalah Granta dan bertiras 2.000 eksemplar, dikhususkan untuk segmen menengah-atas dan akademisi. Sedangkan program radio (102 stasiun radio), ditujukan untuk segmen menengah ke bawah.

Ketertarikan Gadis soal studi feminisme sudah bergelora semasa kuliah filsafat. Dia sudah getol membicarakan wacana feminisme pada teman-temannya. Suatu teori atau wacana yang dianggap baru ketika itu. Dia memang sangat bergairah untuk mempelajari sesuatu teori yang baru. Baginya teori Marxis yang bnyak digemari teman-teman kuliahnya yang kebanyakan lelaki, sangat membosankan.

Salah satu pemikir feminisme yang dikaguminya adalah Barbara Smith. Barbara dalam bukunya All the Women are White, All the Blacks are Men, But Some of Us are Brave, yang bersumber dari pidatonya (1979) menyebut feminisme adalah teori dan praktik politik yang berjuang untuk membebaskan (pembebasan total) semua perempuan.

Di dalam negeri, dia mengagumi Toeti Herati Nurhadi. Gadis banyak berdiskusi dengan dosennya yang jika ke luar negeri sering membeli buku-buku bagus tentang perempuan itu. Gadis sering meminjam buku-buku Toeti tentang feminisme itu. ►e-ti/crs, dari berbagai sumber

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)




0 komentar:

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Followers

  ©Template by Dicas Blogger.